A social constructivist approach for an online civic education tutorial

This study addressed the reforming of an online civic education tutorial at the Indonesia Open University or Universitas Terbuka (UT). Several contemporary literature were reviewed to determine best practices, including social constructivism and a democratic form of teaching. Constructed from the review of literature, the paper proposed a new model of pedagogical approach to the existing practice of the online civic education tutorial. The proposed model for the online civic education tutorial in this study was based on the Community of Inquiry framework from Garrison, Anderson & Archer (2000) that promoted a social constructivist approach, and a democratic form of teaching. The learning of the tutorial in the model was theorized to occur within the community through the interaction of social presence, cognitive presence, and teaching presence. In social and cognitive presence, students would form an online community where they would have collaborative discussions among students and between students and tutors, as well as would be expected to practice critical thinking. Teaching presence would occur when tutors promoted a democratic environment in the class, where they would model civic dispositions throughout their teaching. Tutors would show their respect and tolerance to students while facilitating discussion activities and giving direct instructions. Students would also be expected to be tolerant and respectful when they have discussions with other students and tutors. Through this model, students would be expected to gain civic knowledge, civic skills and civic dispositions, as well as experience with a democratic interaction that mirrors the interactions in a democratic society.
by:
Made Yudhi Setiani

AAOU proceedings 2014

Advertisements

2. studi kasus #whatwouldaPRdo “PR adalah Pendidik”

Prof X Ditangkap Nyabu, Mabes Polri: Beliau Seharusnya Jadi Teladan

Instansi dijamin langsung geger dengan publikasi skandal penyalahgunaan narkoba. Selain narkoba materi lain yag sanggup membuat geger instantly adalah publikasi video porno, KDRT, plagiat, dan perilaku tidak pantas seperti melakukan pemukulan. Kasus ini bisa sangat sensitif karena melibatkan nama baik instansi, nama baik orang per orang. Sebagai PR instansi, perlu ada persamaan persepsi, visi dan misi dengan pimpinan. Bukan rahasia kalau di negeri tercinta ini, para top level echelon belum memahami tugas dan fungsi humas dalam internal organisasinya, selain bertugas membuat kliping, dokumentasi kegiatan dan kadang-kadang mengundang wartawan. Masih belum banyak yang mengoptimalkan kemampuan humas internalnya dalam strategi komunikasi. Juga bukan rahasia kalau pimpinan bisa membuat tim media sendiri meskipun sudah ada unit humas dalam satuan kerjanya. Begitulah.

Lalu kembali ke laptop. Apa sajakah yang bisa dilakukan humas bila lembaganya terpapar skandal?

Strategi humas untuk meminimalkan dampak viral trial by the press dan memperbaiki nama instansi, sebagai catatan tambahan langkah-langkah ini memerlukan persamaan persepsi, persamaan visi, misi, serta yang terpenting, kita memerlukan: passion.

Begitu informasi skandal diterima. Informasinya bisa berupa breaking news, twit di media sosial, berita pendek di media online, telepon, atau informasi dari pesan text yang sekarang sudah dilengkapi dengan foto. Sumber informasi berbeda, berbeda pula penanganannya.

1. Bila informasi masih berupa informasi melalui telepon. Humas dan tim hukum bisa langsung menuju lokasi bila dimungkinkan. Katakanlah saat itu posisi sudah ada di kantor polisi. Minimalkan semua press coverage. Jangan lupa status terduga mewajibkan publikasi dibatasi hanya pada inisial nama. Humas harus senantiasa berpegang praduga tak bersalah. Bila diperlukan humas bersama tim hukum akan membagikan informasi pada rekan-rekan kita para wartawan bahwa:

“pejabat X diduga melakukan penyalahgunaan narkotika kategori Z  dan saat ini tengah diminta keterangannya oleh pihak berwajib. Untuk membantu proses penyelidikan diharapkan rekan-rekan media dapat menghormati asas praduga tak bersalah dengan hanya menyebutkan inisial nama. Bila kami menemukan pemberitaan yang tidak sesuai, khususnya tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik dan UU Pers, kami akan langsung laporkan ke Dewan Pers dan Komisi Penyiaran..”

Apakah ini ancaman? tentu tidak. Ini adalah unsur pengingat bahwa profesi wartawan  dijaga dengan ethical code of conduct. Kita perlu secara sederhana mengingatkan kode etik jurnalistik untuk meminimalkan dampak trial by the press yang bisa menjadi viral hingga tidak relevan. Jangan lupa selain pejabat X tersebut masih ada keluarganya, mungkin saja yang bersangkutatan punya anak  dibawah umur, ada nama baik instansi yang harus dijaga. Dalam nama baik setidaknya ada dua hal yang harus dijaga: credibility and integrity. Dua hal yang di Jepang, dijaga dengan nyawa.

2. Bila informasi sudah berupa breaking news. Informasi pada tahap ini masih simpang siur. Kita bisa memberikan klarifikasi, mengumpulkan data. Pada tahap ini, sudah lebih mudah untuk dilaporkan ke atasan. Bapak/Ibu sudah baca? salah satu pejabat kita ditahan karena penyalahgunaan narkoba. Kembali pada tugas humas untuk menjaga instansinya, bagaimana kita akan menjaga credibility and integrity. Selain kita perlu mengingatkan rekan-rekan wartawan dengan kode etik jurnalistik, kita perlu menambahkan dengan:

“Instansi X memberikan cuti karena alasan penting kepada Sdr. X (tetap samarkan nama dengan initial) agar beliau dapat lebih fokus terhadap masalah ini. Instansi akan memberikan bantuan hukum  (instansi wajib memberikan bantuan hukum tanpa diminta, kecuali ybs memilih menggunakan tim pengacara sendiri). Pejabat sementara saat ini telah ditunjuk Sdr. Y menggantikan Sdr. X. Instansi X bekerja sama dengan BNN akan melakukan test narkoba pada semua jajaran struktural, pegawai hingga mahasiswa. Sesuai Peraturan Instansi X, penyalahgunaan narkoba merupakan kesalahan berat, bila ada yang terbukti melakukan penyalahgunaan narkoba, instansi akan menjatuhkan sanksi akademis dan sanksi administratif….”

3. Waspadalah dengan berita-berita yang ‘menghasut’ dan wartawan yang meminta ‘opini’.  Contoh pertanyaan wartawan:

“Bagaimana pendapat bapak mengenai opini pejabat humas mabes polri?”

“Bagaimana pendapat bapak terhadap kasus ditangkapnya pejabat X dari Instansi Z?” –pertanyaan ini biasanya ditujukan kepada  pakar, narasumber, atau siapapun yang bisa saja relevan, bisa juga tidak. Bukankah, kadang media melakukan publikasi hasil wawancara dengan pemilik warung dekat rumah, tetangga, atau teman kerja? Kadang media juga mengkonfrontasi pernyataan narasumber A dan B, dan meminta konfirmasi dari humas. Pemberitaan seperti ini perlu disikapi dengan bijak. Humas perlu tetap fokus. Bila diperlukan, humas bisa mengingatkan banyak pihak pentingnya fokus pada masalah yang dihadapi, menghormati asas praduga tak berasalah serta bersikap kooperatif atas proses hukum yang sedang berjalan.

Contoh kasus ini terjadi pada dunia pendidikan.

Demikian pula dengan humas, humas yang ideal memiliki fungsi mendidik, mengedukasi stakeholder-nya atas pentingnya asas, pemahaman peraturan yang berlaku, menghormati proses hukum, transparan, informatif dan kooperatif. Humas juga mendidik peer group-nya atas pentingnya informasi berimbang, sampai implementasi kode etik jurnalistik dalam pemberitaan. ***

1. studi kasus #whatwouldaPRdo “PR adalah Pemadam Kebakaran”

“Pemadam Dipanggil, tetapi Enggak Mau, Katanya Takut Mati”

Kamis, 13 November 2014 | 16:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Api menghanguskan sedikitnya 14 rumah di RT 14, RW 05, Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Kamis (13/11/2014) pagi. Warga menyebut petugas pemadam kebakaran yang bertugas di sana tidak bekerja secara maksimal.
“Damkar agak lambat. Cari air ke kali nyedotnya, soalnya di sini enggak ada air. Tetapi kalau datang buru-buru tepat waktu, enggak sampai segini,” kata Ketua RT 14 Budiman, Kamis siang.
Warga lain, Maydi (20), mengatakan hal serupa. Saat kebakaran berlangsung, Maydi baru bangun tidur dan langsung menyelamatkan barang-barang miliknya.
Namun, saat akan mengungsikan sepeda motor, dia kesulitan mengeluarkan motornya dari area kebakaran karena sempitnya jalan yang dipenuhi oleh warga yang panik dan api yang menyambar dari atas.
Maydi terkena balok kayu yang terbakar dari atas rumah. Balok itu mengenai pundak sebelah kiri dan menyebabkan luka bakar. Saat itu, Maydi melihat seorang petugas pemadam kebakaran yang lewat, dan meminta tolong kepadanya. Namun, permintaan tolong itu ditolak.
Pemadam dipanggil, tetapi enggak mau. Katanya takut mati. Kalau takut mati, jangan jadi pemadam dong,” ucap dia mengeluh.
Maydi pun mengaku sempat ingin meminjam seragam pemadam kebakaran milik petugas agar dia tidak lagi terkena balok kayu yang berapi dari atas. Saat itu, kata Maydi, api sudah banyak menghanguskan bagian atas rumah dan menyebabkan bagian-bagian rumah yang kebanyakan dari kayu itu berjatuhan.
Penyebab kebakaran sementara diduga berasal dari lantai dua rumah kontrakan milik Mamat, warga sekitar. Lantai dua itu disewakan dan dihuni oleh dua orang pendatang dari Pandeglang, Banten, belum lama ini.
Salah satunya adalah Yanti, yang bekerja di Mal Central Park, dan seorang temannya yang bekerja di Pasar Kopro.
Yanti meninggal dalam kebakaran ini, sedangkan temannya sampai menjelang petang belum kembali ke rumah kontrakan tersebut. [Baca: Baru Sepekan di Jakarta, Yanti Meninggal Terbakar di Rumah Kontrakan]

Sumur:

http://megapolitan.kompas.com/read/2014/11/13/16285251/.Pemadam.Dipanggil.tetapi.Enggak.Mau.Katanya.Takut.Mati.

————————————————————————————————————————————————————-

Saya membaca berita ini dalam twit @kompascom social media milik Kompas.com. Judulnya memang sangat catchy. Catatan hari ini, semoga belum bosan…jangan pernah menilai berita dari judulnya. Judul berita sekarang memang dibuat semenarik mungkin hingga sering misleading, judging dan mungkin saja melanggar so called kode etik jurnalistik. Jadi, diulang, jangan pernah menilai berita dari judulnya.

however,

kemampuan analisis non verbal masyarakat berbeda. Perbedaan ini menimbulkan perbedaan kemampuan memahami konteks. Akibatnya tidak ada cerita: berbeda tetapi satu seperti motto indah dalam pita yang dicengkeram garuda. Dalam tren media online dan media sosial, orang cenderung membaca singkat, paling parah kalau orang mulai sering membaca judul tanpa membaca seluruh isi berita. Akibatnya: misleading berjama’ah.

Misleading berjama’ah punya beberapa alias : Mis-Komunikasi, Mis-Understanding, intinya satu..terjadi mis, terjadi kekeliruan.

lalu seperti judul yang tercantum diatas: What would a PR do?

Pada contoh kasus pemberitaan kompas.com pada hari Kamis, 13 November 2014,

“Pemadam Dipanggil, tetapi Enggak Mau, Katanya Takut Mati”

Judul berita memang sangat menarik. Apakah penulisnya melakukan kesalahan? belum tentu, karena wartawan yang bersangkutan mengutip langsung dari narasumber. Ada beberapa hal yang ‘hilang’ dalam artikel itu, salah satunya: tidak ada pemberitaan berimbang. Terkait pemadam kebakaran takut mati, penulis sama sekali tidak meminta keterangan kepada dinas Pemadam Kebakaran. Penulis menggunakan dua narasumber yakni ketua RT 14 Budiman dan warga bernama Maydi. Keluhan Maydi-lah yang dikutip Kompas.com hingga menjadi judul berita. Masih menurut Maydi, yang bersangkutan mengadukan seorang petugas pemadam kebakaran yang menolak membantu memindahkan motor miliknya.

KOMPAS.COM/ANDRI DONNAL PUTERA Sebuah motor tidak berhasil diselamatkan saat kebakaran terjadi di RT 14 RW 05 Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Kamis (13/11/2014). Motor kesulitan dibawa keluar karena kondisi jalan yang penuh sesak warga yang panik dan api yang menyambar dari arah atas.

Dalam kebakaran tersebut ada satu orang korban tewas. Tapi, foto yang dimuat adalah foto motor yang tidak berhasil diselamatkan. Sejak kapan satu motor bisa jadi lebih bernilai daripada ..nyawa manusia? well.. Wartawan adalah pilar keempat demokrasi,dan kita sewajarnya menghargai independensi media dan kemerdekaan pers. Tapi Wartawan adalah manusia juga, dan manusia seperti kata alim ullama, manusia adalah tempat alpa dan salah. Tapi itu tidak akan kita bahas disini. Tulisan ini tidak untuk membedah artikel kompas.com, melainkan hanya mengajak kita semua untuk memahami, bila instansi kita berada pada posisi ini..what would you guys do?

1. Klarifikasi

Lokasi kebakaran di Grogol Petamburan, Jakarta Barat, maka yang paling tepat memberikan klarifikasi adalah pejabat berwenang, yakni…in my humble opinion ..adalah walikota Jakarta Barat bersama Kepala Suku Dinas Kebakaran Kota Jakarta Barat.

Perlu ada press conference agar kedepannya pemberitaan-pemberitaan seperti ini dapat di counter dengan baik. Pemberian klarifikasi.. seyogianya dimulai dengan kata ‘maaf’ mengapa demikian? karena ekspektasi masyarakat terhadap pemadam kebakaran begitu tinggi. Jadi apabila masih ada korban jiwa, kita telah gagal memenuhi harapan masyarakat. Maka, mulailah dengan kata ‘maaf’.

‘Maaf’ mengandung filosofi kewarasan terhadap tugas, fungsi dan ekspektasi. Secara alami—terkait ekspektasi — you just can’t please everybody — karenanya, dengan rendah hati, ucapkanlah ‘maaf’.

Alinea pidatonya bisa ditulis seperti ini:

“Mengenai keluhan Sdr. X seperti dimuat pada media Y, kami turut menyesal atas kehilangan harta benda yang sdr. alami. Untuk itu kami mohon maaf. Terkait keluhan yang sudah sdr sampaikan melalui media Y, kami dapat menjelaskan bahwa petugas kami, pada saat itu telah mendapat tugas memprioritaskan pada mencegah korban jiwa, mencegah kebakaran meluas dan memadamkan api. Maka dengan sangat menyesal kami sampaikan bahwa petugas kami tidak memprioritaskan pada penyelamatan harta benda milik pribadi.

Keluhan bapak bagi kami merupakan masukan yang berharga, saat ini Dinas-dinas pemadam kebakaran akan melakukan sosialisasi pencegahan kebakaran dan pelatihan pemadaman mandiri oleh warga, kegiatan ini akan dilakukan di tiap-tiap kelurahan dengan koordinasi langsung dengan dinas pemadam kebakaran setempat…”

2. Klarifikasi menggunakan hak jawab dan hak koreksi

Pada berita ini, pihak pemadam kebakaran memiliki hak jawab dan hak koreksi atas kekeliruan pemberitaan. Since the damage has already done hak jawab dan hak koreksi menjadi bagian dari beberapa tools media relations yang perlu dimanfaatkan. Gunakanlah dengan niat baik. Informasi yang keliru menghasilkan penilaian yang keliru juga. Menumpulkan nalar. Pada beberapa kasus, pemberitaan yang diamplifikasi oleh media sosial dan media mainstream menjadi viral dan bisa membuat orang ikut membenci sesuatu yang tidak diketahuinya dengan pasti.

Tugas kitalah untuk menghindari hal-hal seperti itu terjadi. Membangun kepercayaan sama dengan menjadikan instansi kita layak dipercaya. Karenanya, kritik perlu didengarkan, diperhatikan, bila perlu koreksi, kita lakukan koreksi. Jangan berharap waktu akan menghapus luka. Masyarakat kita katanya pelupa. Mungkin benar. People can forget what you say, but people will never forget how you make them feel.

Humas memang sering disebut sebagai unit pemadam kebakaran. Karena humas adalah ‘pemadam kebakaran’ maka kali ini, catatan ini dipersembahkan untuk rekan-rekan humas Dinas Pemadam Kebakaran, Jakarta. Karena kita menjadi unit pemadam, tentunya kita juga tahu apa-apa saja yang bisa menimbulkan ‘api’. Maka humas yang bijak akan mencegah ‘kebakaran’ meluas, salah satunya adalah dengan ‘memadamkan’ api-api kecil sebelum menjadi besar.***

contoh pidato yang disampaikan pada Hari Pahlawan

Speech
of
His Excellency Benigno S. Aquino III
President of the Philippines
On National Heroes Day

[This is a translation of the speech delivered at the Libingan ng mga Bayani, Taguig City, on August 25, 2014]

To me, our yearly celebration of National Heroes Day represents three things.

First, it is an act of remembering. We remember people who, at the beginning, had their own personal concerns. They all had individual ambitions: to finish school, to find someone to love, to start a family, to set up and grow a business or advance in their careers, and to live peaceful lives. But when they were confronted with events that affected not just them, but their countrymen, they found themselves at a crossroads. They could have chosen to remain focused on their private battles, disregarding what was going on around them, yet they chose to set aside their personal agendas, their fears, and their own needs to fight for the benefit of the many. They were fully aware of the dangers of going against those who had power, but they did not waver. They knew that if they did not use their intellect and their strength to resist it, then the vicious cycle of abuse and violence would continue.  These are the people we consider heroes. Is it not true what they say—that heroes are ordinary people who were placed in extraordinary situations, and yet still chose to do what is right?

Second, this celebration is also a thanksgiving. Today, because of their sacrifices, we enjoy different forms of freedom: We are free from invaders; we are free from the violence and devastation of war; we are free from dictatorship. We are free to express our opinions and reach for our dreams.

Third, this is also an opportunity to reflect on the meaning of being a hero, not only in the past, but in our present situation. This is vital because even if our society has made much progress, it is clear that our battles continue. Apart from this, the responsibility to make certain that we will bequeath to coming generations a Philippines freer and more progressive still rests on our shoulders. Indeed, times have changed, and thus, the forms of heroism we are capable of living out have changed as well.

It is personal for me to define heroism. We come from different backgrounds, and our abilities vary. Thus, each one of us is given a unique opportunity to serve our country and our fellow Filipinos.

I remember, for instance, a story that Secretary Mon Jimenez shared with me about some Filipinos who lived in Fukushima prefecture in Japan. It was 2011 then, and the place had just been hit by a really devastating tsunami. Many perished, and many were orphaned and injured. Houses in Fukushima, and property borne of hard work were destroyed, if not washed away. There was a palpable sense of defeat and hopelessness in life. But in the midst of this kind of suffering, there were Filipinos who, instead of focusing on material loss, gave thanks to the Almighty, because they had survived disaster. Their contagious optimism and the strong faith displayed by them truly encouraged their Japanese neighbors—these, with the positive disposition of the people there served as the foundation for the reconstruction of Fukushima.

There is also the story of Noli Dela Cruz, a member of our non-uniformed personnel sector. During the onslaught of Yolanda, with the presence of mind, he roped together sheets and clothes, so that his neighbors who were trapped in the floods may hold onto something. 36 persons were thus saved because of his efforts.

These two examples illustrate the extraordinary ability of Filipinos to serve as beacons of hope in the darkest moments. Instead of hurling criticism or spreading negativism, which some of our countrymen have grown accustomed to doing, these remarkable Filipinos chose to empower their fellowmen.

We must also remember that there are many heroes who remain anonymous—whose deeds are not known to many. There are the Filipinos who, instead of giving up in the face of calamities, helped and worked alongside their countrymen without a second thought. There are the teachers who devote their lives to guiding the succeeding generations.  There are the members of law enforcement who choose to fulfill their responsibilities, instead of giving in to the temptation of easy money. There are our soldiers who protect our territory and people with true courage. There are the professionals who use their skills and knowledge to serve their fellow Filipinos. There are the leaders of religious institutions who are our allies in fighting corruption and in pushing for reform. And there are all our countrymen—each and every citizen who strives for success, in order to become a productive member of society. On behalf of the Filipino people, I thank all of you. You are proof that our nation is indeed a nation of heroes.

The latest estimates of the Commission on Population reveal that there are around 100 million Filipinos at present. On days like this, I cannot help but think, and ask myself: What can be achieved when a hundred million Filipinos work arm-in-arm towards a single goal? The days of colonizers, of wars, of Martial Law are long gone. Yet there are still a select and selfish few who remain determined to bring back the old and abusive political systems. This is the fight that confronts us today: to remain vigilant against those who seek to sow doubt and lies; to stand firm and refuse to allow ourselves to be manipulated by those who only pretend at reform; to reject the crooked, and resolve to stay on the straight path.

These are why a recent article written by Ma. Francesca Santiago, a student from Bacolod, is truly remarkable for me. She said that, at first, she was not fond of keeping up with politics because there were other things that she would rather focus on. But she was alarmed by what she had read and had seen these days. To her, it seems as if the latest trend is to hurl criticism, even at those who are doing everything in their power to uphold the interests of the people. She also said: in the face of the challenges our country has experienced, instead of remaining open-minded and searching for the truth, there are some who choose to spread baseless accusations; instead of helping to find a solution, there are some who want to worsen the fear and suffering of our countrymen. It is clear to her that everyone has a right to free expression, but at the same time, each one has the obligation to remain just and reasonable. I was surprised to know that Ma. Francesca is only 13 years old. It is impressive that, at this age, she already exhibits more discernment than some who are much older than her. If this is the caliber of thinking of the youth today, I am certain that we are indeed facing a brighter future.

We have been treading the straight path for more than four years now. The seeds of change we have sown are already bearing fruit—and, seeing this, those who want to take advantage of the people are becoming desperate. Let us not waste the opportunity we have today. This is the only way that we can repay and honor the heroes who sacrificed much, so that our country could arrive at its present state. This is the only way for us to ensure that, when the next generations commemorate National Heroes Day, they will remember, express their gratitude for, and reflect on this chapter of our history, and they will say: This was indeed the time when all Filipinos decided, as one people, to become heroes.

Thank you, and good day.

Sumur:

http://www.gov.ph/2014/08/25/english-speech-of-president-aquino-in-celebration-of-national-heroes-day-2014/

INTERVENSI

izin re-blog gan, mencerahkan sekali tulisannya

LAW ENFORCEMENT

Intervensi dalam proses Peradilan Tata Usaha Negara adalah ikut serta atau diikutsertakannya pihak ketiga berupa perorangan atau badan hukum perdata yang berada di luar pihak berperkara dalam proses pemeriksaan perkara. Intervensi dimungkinkan sebelum acara pembuktian (paling lambat saat duplik). Dengan kata lain bilamana intervensi diajukan setelah duplik, maka intervensi dianggap batal. Kemungkinan masuknya pihak ketiga ini (intervensi) diatur dalam pasal 83 UU No. 5 tahun 1986.

Terdapat beberapa kemungkinan motivasi masuknya pihak ketiga dalam proses peradilan, yaitu:

  1. Atas Prakarsa Sendiri

Dalam hal pihak ketiga ingin mempertahankan serta membela hak dan kepentingannya agar tidak dirugikan oleh putusan pengadilan yang sedang berjalan, maka pihak ketiga tersebut sebagai pihak yang mandiri dan berkedudukan  di tengah-tengah antara pihak penggugat dan pihak tergugat. Untuk dapat ikut serta dalam perkara atau proses pemeriksaan perkara, karena atas prakarsa sendiri, maka pihak ketiga tersebut harus mengajukan permohonan dengan mengemukakan alasan-alasan serta hal yang dituntut, sesuai dengan ketentuan pasal…

View original post 572 more words

communication strategy for xxx

xxx as a new organization is expected to be the coordinator in the fight to eradicate illegal fishing, maintain security at sea and in the promotion of fisheries, tourism, while promoting sustainable management of the environment and natural resources for the benefit of nation.

in the era of so called free media in Indonesia, communication strategy is essential. One of the communication strategy aims is to increase visibility and transparency of the good work being done. The office is in dire need to have dedicated staff to help achieve its goals, dedicated specialists in media outreach at national level are required to increase visibility in national vernacular media..and beyond.

Specifically and in line with the organization communication policies and plans, the strategy will consist of:

1. Design and implement a communication work plan in support of the agreed country programming framework (RPJMN), regional objectives (ASEAN and the pacific) and the United Nations;

2. Support public communication activities by preparing talking points, arranging photo coverage, drafting press releases and disseminating news through press contacts, management of interviews and/or press conferences;

3. Proactively seek out good beneficiary feature story possibilities for TV and Print Journalists, based upon the good practices of xxx work;

4. Maintain regular consultation on outreach activities with coordinated communication officer (KKP, ESDM, Perhubungan);

5. Prepare and submit articles about the ministry’s projects in the country for publication;

6. Support the strengthening of xxx media relations and public visibility as well as xxx relations with other multilateral, national partners;

7. create or improve a national media database;

8. Increase the number of good photo from the work and submit them in internal gallery, web and social media;

9. Update the website with the press releases generated by coordinated offices and other relevant information such as events, projects, agendas, etc;

10. Track and log all media reports;

11. Identify training requirements in communication and develop and implement a training programme for the staff to support the sustainability of the communication initiatives;

12. Other required activities in order to fulfill the visibility objectives as requested.

——–work work work !

ketika ikan salmon mudik:catatan pribadi

Ikan salmon mudik. Yes, ikan yang lahir di sungai dan danau lalu berenang ke laut itu akhirnya kembali ke sungai dan danau tempat lahirnya untuk kawin mawin beranak pinak. Ikan salmon menyimpan cita rasa air tempat ia dilahirkan sebagai que tempat untuk kembali.

Manusia dan ikan salmon punya kemiripan. setiap tahun, diberbagai penjuru dunia, dalam acara-acara istimewa, manusia berbondong-bondong mudik ke kampung halaman. Menggali kembali tempat-tempat yang pernah hadir dalam kenangannya. Mengingat masa-masa muda dan hari-hari yang telah berlalu. Memperkenalkan kembali kepada anak-anak, langkah-langkah yang dulu pernah dilalui.

Seperti ikan salmon, sayapun ingin kembali. ke sungai yang pernah saya renangi, ketika mulai belajar, hingga saya berenang keluar, menambah ilmu dan pengalaman. Ketika masih ada umur untuk mengabdi, berbekal pengalaman yang sudah didapat. Mengapa tidak?

Jika ada tempat kembali untuk mengabdi, tak ada tempat yang lebih baik, selain rumah sendiri 🙂

#catatanpribadisepulangmengantartemanmengunjungiKemenkoMaritim