…selamat tinggal dan selamat datang…

Seperti biasa, hari inipun saya bangun jam 04 pagi. Tapi yang tidak biasa, adalah hari ini tiba-tiba sangat ingin menulis. Mungkin karena teman-teman saya yang memasang foto-foto ‘farewell’ menteri dan wamennya di timeline masing-masing, suasana menjadi terasa melankolis. Karena di Ombudsman memang belum ada perpisahan seperti itu, perpisahan yang saya rasakan menyakitkan pernah saya alami di Ombudsman dua kali: wafatnya Ombudsman Ibnu Tricahyo karena sakit, dan Wakil Ketua Ombudsman yang mengundurkan diri.

Lebih dari sedih, suatu perpisahan yang menyakitkan, meskipun kita akan tetap teguh berkata, bahwa rencana Tuhan lebih sempurna dari rencana manusia. Kita harus ikhlas. Hidup masih berlanjut.

lalu datang hari ini, hari pelantikan pejabat eselon 2 di Ombudsman. Setelah melewati proses seleksi terbuka yang berjalan dengan penuh skeptis pada awalnya, dari tiga kandidat terpilih seorang pejabat yang telah melalui seluruh proses dan akan segera bergabung dalam sekretariat jendral Ombudsman Republik Indonesia. Suatu contoh bahwa usai perpisahan akan hadir orang-orang baru yang akan menggantikan dan menjadi warna dalam organisasi.

Semua orang tahu, sehebat-hebatnya seorang pemimpin, ia tidak akan sukses kalau tidak didukung oleh tim yang solid dan kuat. Mengutip dari tulisan salah satu penulis favorit saya Dino Patti Djalal, kualitas seorang pemimpin biasanya tercermin dari kualitas tim pendampingnya.

Untuk mencapai hasil maksimal, pemimpin harus bisa memilih anggota timnya sendiri.

Secara alamiah favoritism seolah terlihat dan berlanjut dari pada sikap anggota organisasi yang tidak menjadi bagian dalam tim. Tidak menjadi bagian atau tidak merasa menjadi bagian dalam tim, membuat perpecahan dalam organisasi. Benar sekali bahwa seorang pemimpin harus bisa memilih anggota timnya sendiri, tapi pemimpin, dalam hal ini pemimpin dalam birokrasi juga harus mengedepankan asas pembinaan bagi pegawai.

Pemimpin dalam birokrasi wajib membina, memberi kesempatan, memberi kepercayaan agar organisasi dapat tumbuh berkembang.

Jujur, mungkin disinilah letak kelemahan birokrasi. Penyegaran, mutasi, promosi perlu dilakukan agar tidak ada zona nyaman yang membuat pegawai menjadi malas berinovasi. Penyegaran perlu dilakukan. Sama halnya dengan kaderisasi yang perlu dilakukan senantiasa, karena jabatan tidaklah abadi.

Tidak perlu terikat pada jabatan. Kita semua bisa mengucapkan ‘selamat tinggal’ pada jabatan kapan saja, entah karena umur, atau faktor-faktor lain diluar kendali. Tapi ingatlah selalu tentang apa yang bisa kita tinggalkan, selagi hayat masih dikandung badan. Apa yang kita tinggalkan untuk generasi berikutnya. Sekarang birokrasi sudah direformasi, sudah banyak perubahan postif yang harus tetap dijaga momentumnya. Birokrasi kita masih berkembang.

Birokrasi di negara seperti Korea Selatan dan Jepang sangat profesional. Hampir bisa dikatakan, siapapun yang menjadi pemimpin, sistem akan berjalan seperti mesin yang terawat–lancar. Sistem yang sudah seperti mesin ini memang sangat efisien dan efektif. Sistem kita sebaliknya, kita menyisakan banyak ruang untuk berinovasi, atau istilah sering digunakan boss saya: simplifikasi. Organisasi yang sedang berkembang memang seperti mencari bentuk, membangun kepercayaan baik kepada publik internal maupun publik eksternalnya.

Seorang pemimpin harus obyektif. Masih dari tulisan Dino Patti Djalal yang sedap dinikmati sambil sarapan pagi, saya menyitir satu paragraf:

“..proses pembuatan keputusan tercemar oleh peran pembisik, maka proses akan menjadi: akan timbul antipati, rivalitas tidak sehat, saling jegal, politik fitnah, demoralisasi, hilangnya kepercayaan, melemahnya sistem, dan hal ini akan membuat proses pembuatan keputusan menjadi kisruh.”

Kata kepercayaan senantiasa berulang, karena sangat signifikan, bagi saya pribadi, kepercayaan adalah apa yang menjadi langka akhir-akhir ini. Suatu perilaku yang saling percaya, setia dan menghargai. Suatu hubungan antar pemimpin dan birokrasi pendukungnya. Kadang birokrasi dapat bersikap sangat antipati, bukan semata-mata karena tidak percaya pada pemimpin, melainkan adanya perlindungan birokrasi terhadap agenda kepentingannya sendiri. Menjadi tantangan bagi pemimpin untuk mengubahnya menjadi peluang.

Tidak perlu khawatir, suatu masalah pasti ada solusi.

Seperti juga hari ini.

Pagi yang melankolis, selamat datang. semoga menjadi pencerahan bagi kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s