Cheonggyecheon stream, Seoul, Waduk Jatigede, Sumedang dan peran hubungan masyarakat

OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Catatan kecil dari perjalanan kunjungan Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) bersama Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) pada tanggal 09 – 10 Oktober 2014. Atas undangan KemenPU Rombongan Bakohumas berkesempatan mengunjungi waduk Jatigede yang membendung aliran sungai Cimanuk, Sumedang, Jawa Barat. Waduk Jatigede yang akan menjadi waduk terbesar no.2 setelah Jatiluhur , saat ini memang belum selesai pengerjaannya.

Gagasan pembangunan waduk Jatigede telah ada sejak tahun 1963, dilanjutkan dengan design pembangunan waduk, pembebasan lahan dilakukan secara bertahap sejak tahun 1982 sampai sekarang. Pelaksanaan konstruksi waduk dimulai pada tanggal 15 November 2007. Targetnya waduk digenangi air pada bulan Mei 2015, pada saat ini masih ada beberapa kendala dalam penyelesaian waduk, yakni penyelesaian penanganan dampak sosial dan lingkungan untuk siap digenangi.

Pada bulan Juni 2014, saya berkunjung ke cheonggyecheon stream, seoul. Ketika berkunjung ke museum kami mendapat penjelasan mengenai proses pembangunan alur air yang kini telah menjadi salah satu landmark pembangunan kota Seoul. Inisiasi pembanguan cheonggyecheon stream dimulai tahun 2003 dan dibuka untuk umum pada tahun 2005.

river 1

river 2

Dari dua kunjungan tersebut saya mempelajari banyak hal yang menarik dari sisi hubungan masyarakat.

Seperti peran humas dalam penanganan dampak sosial dan lingkungan.

Kedua project meghadapi kendala dampak sosial dalam pembangunannya. Pemerintah kota Seoul menghadapi konflik dengan pedagang-pedagang yang harus tergusur dalam proyek restorasi ini, demikian pula dengan KemenPU yang menghadapi beragam konflik dari masalah pembebasan lahan, pemindahan situs-situs bersejarah,pengelolaan daerah aliran sungai, hingga illegal settlements.

Peran humas lembaga umumnya meliputi peran liason, media relations, hubungan kelembagaan dan organisasi masyarakat, event organizer, communication dan mediasi. Semua peran tersebut dapat diintegrasikan dalam membantu penyelesaian konflik sosial dalam pembangunan infrastruktur.

Sebagai penghubung dan komunikator lembaga, para humas dapat berperan aktif dalam proses pembebasan lahan dan konflik dengan illegal settlements. Lembaga swadaya masayarakat dan media massa perlu mendapat informasi berimbang secara intens dari team humas. Sudah bukan rahasia lagi kalau pembebasan lahan rawan konflik dan kerap ada organisasi masyarakat yang memberikan informasi tidak sesuai kepada media massa. Humas perlu melakukan counter issue.

Sama halnya dengan potensi konflik dalam relokasi situs bersejarah dan emotional attachment dari penduduk yang desanya harus terbenam dalam waduk. Membangun waduk tidak hanya bangunan beton tak berhati, didalamnya banyak perjuangan, keringat, darah dan air mata. Banyak hal yang menjadikan penanganan dampak sosial menjadi sama pentingnya dengan pembangunan fisik.

Humas bisa melakukan sosialisasi dengan memperhatikan kearifan lokal dan budaya setempat. Hukum dan aturan memang wajib dikedepankan, tapi pendekatan humanis dari para humas sejatinya dapat meminimalkan konflik, dan menjadikan proyek selesai pada waktunya.

Kegiatan-kegiatan humas yang humanis akan menimbulkan rasa memiliki dari penduduk sekitar yang sewajarnya akan menjadi yang paling diuntungkan bila proyek sudah selesai. Kita perlu senantiasa mengingat, kadang bukan APA yang dikatakan, atau SIAPA yang mengatakan..tapi BAGAIMANA suatu pesan itu disampaikan. Komunikasi perlu dikemas dengan baik dan dijalin dengan hati-hati sekaligus menjaga integritas.

Hukum harus ditegakkan, tapi pendekatan kemanusiaan tidak boleh dikesampingkan. Para humas lembaga perlu bertindak  luwes, menjembatani komunikasi, menemukan win-win solution. Bahkah setelah proyek selesai, tugas humas masih belum selesai. Masih ada aftermath berupa promosi waduk baik sebagai area komersial, rekreasi hingga tata kelola lingkungan. Melalui humas dijalin koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan provinsi, kementerian lingkungan hidup, kementerian kehutanan terkait pengelolaan dan konservasi daerah aliran sungai. Saat ini, komunitas-komunitas pemerhati lingkungan hidup dan organisasi seperti WALHI dan Greenpeace yang memiliki kepedulian tinggi terhadap konservasi alam wajib ada dalam agenda humas lembaga.

Begitulah.

Kelihatannya sederhana.

Tapi pekerjaan kehumasan senantiasa dinamis dan selalu membuat kita memiliki hal-hal baru yang harus terus dipelajari. HUmas perlu disertakan dalam proyek strategis agar tim humas dapat merancang strategi komunikasi yang sesuai. Sejatinya, para pimpinan lembaga perlu menyadari, bahwa peran humas dapat lebih berdaya guna, bila memang benar-benar dimanfaatkan sebagaimana mestinya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s