media analysis report : satu catatan pribadi

Pada suatu hari yang cerah, seorang teman mengajak berdiskusi tentang tugas membuat suatu : laporan harian analisis media ( daily basis media analysis report). Jujur saja, buat saya hal ini sangat menarik. Mengapa ? Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada teman yang mengajak, salah satu dari beberapa hal yang menarik dalam tugas ini adalah sudah ada SK aka surat keputusan penugasan kepada parapihak, yang tentunya, saya tidak termasuk didalamnya. Apabila sudah ada SK tentunya sudah ada telaah, TOR, kerangka acuan termasuk anggaran mengenai, at least : latar belakang, permasalahan, pembahasan, tujuan, expected outputs, possibility outcomes, the plan on how the team going to work it out, the team, and the budget.

As far as i know, there’s none of them.

Hal ini menarik, karena sudah ada SK yang ditandatangani oleh pimpinan, dalam hal ini kebetulan Menteri Hukum dan HAM. Akibatnya menurut logika saya yang sederhana, seharusnya para anggota tim sebagaimana tercantum dalam SK sudah tahu apa tugasnya dan apa yang akan dihasilkan setiap hari. Itu suatu konsekuensi. Apakah konsekuensi itu melekat pada saya ? seharusnya tidak, karena tidak ada SK, maka dari itu saya tetap bertugas sesuai dengan tugas harian. Menarik, di satu sisi saya ingin sekali ikut terlibat, meskipun tidak ada SK, disisi lain saya merasa, bagaimana posisi saya terhadap anggota tim yang lain ? Rasanya koq seperti lancang. I’m just a staff how could i possibly invite myself in ?

But that doesn’t stop me from working with my fellow colleagues of course. Actually it was only the beginning of different point of view, maybe there are few piece of my mind i like to write, right here..in my personal blog.

Anyway i have said most of those in the meeting, however, as a team player i humbly follow the result of the meeting.Tapi tentu saja, ketidaksetujuan tersebut sudah disampaikan terlebih dahulu pada teman-teman saya sebelum bermasturbasi dalam tulisan pribadi di blog pribadi.🙂

Yang pertama adalah saya jatuh hati pada mixed method analysis, saya berkeyakinan bahwa untuk memperkuat nilai analisis perlu dikombinasikan qualitative dan quantitatif method, mengapa tidak ? Statistik dapat memberikan emphasis terhadap issue dan pola media framing media massa, therefore analis dapat memberikan peta analisis media yang lebih mendalam berupa proyeksi, langkah antisipasi dalam rekomendasi secara berkala.

Yang kedua saya menyukai tabulasi, saya menyukai pola, skala, kodifikasi,grafik dan bahasa yang to the point. Salah satu yang menyebabkan text narasi untuk analisis media yang sekarang kami kerjakan menurut hemat saya kurang informatif. Narasi membuat klien dalam hal ini pimpinan harus membaca dengan intens, sementara dengan sedikitnya waktu yang dimiliki klien, maka penyusunan dalam bentuk tabulasi jauh lebih sederhana, tidak menghabiskan waktu untuk memahami.

It has to be deep karena tidak semua kasus yang menyita perhatian publik melalui media massa perlu direspon oleh pimpinan. Jangan menjadikan klien sebagai sasaran tembak melalui media framing and media spin.

Yang ketiga saya menyukai pemanfaatan teknologi informasi. Saya penganut aliran uses and gratification, dalam ilmu komunikasi, teknologi ada untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya agar pekerjaan dapat selesai dengan cepat, sekaligus efektif dan efisien. Tim perlu didukung dengan sarana IT yang memadai dan dimanfaatkan dengan baik. Menurut pendapat pribadi ini menggunakan Ipad atau galaxytab untuk angry birds dan sekali-kali memantau twitter seseorang yang diminta boss untuk dipantau adalah sia-sia. Such powerful gadget at the hand of the right man can change the world. Wasting it would be a crime.

Yang keempat saya menghormati hukum. Hukum memiliki fungsi kontrol, dimana pada jalurnya banyak koridor yang harus dilewati demi keamanan, ketertiban, jangan lupa menjadi pribadi taat hukum harus dimulai dari kedisiplinan pribadi. Pada akhirnya hanya integritas yang dibawa mati. Manusia mati meninggalkan nama bukan ? meninggalkan kualitas yang terjaga. Dalam analisis media, kita juga harus memperhatikan koridor-koridor hukum yang berlaku. Pisau hukum akan mempertajam rekomendasi sebagai hasil analisis kita.

Tentunya kesamaan paham dengan atasan adalah crucial. Dalam lingkungan pegawai negeri yang sangat tergantung dengan performa atasan, perbedaan pendapat dapat membunuh pelan-pelan. Begitulah, selanjutnya saya ingin berbagi catatan pribadi tentang manajemen konflik dan media analisis yang lebih fun, simple and informative.

Have a great sunday all ***

One thought on “media analysis report : satu catatan pribadi

  1. Mba Fatma, terima kasih atas ‘jawaban’ dan inspirasi mengenai per-humas-an ini. Salam kenal. Saya baru ditugaskan di Bagian Humas Provinsi Jawa Barat dengan latar belakang jurusan jurnalistik. Agak bingung juga ketika diminta pendapat mengenai analisis media😀 hehehe.
    Sekali lagi terima kasih dan ijinkan saya ‘follow’ mbak.
    Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s